a Blog of a Working Mom
Hari Senin kemarin ternyata kita gak Demo, hehehe dan aku belum melakukan apa-apa seperti yang kuinginkan, cuma 1 hal yang kulakukan : DISKUSI. Ya, diskusi dengan rekans “sejawat”, duhh kayak di kantor PEMDA deh. Sebenernya diskusiku dengan beliau karena permintaan dari curhat-er hari jumat lalu. Aneh ya, dia menentukan dengan siapa aku harus diskusi
Ok deh … kita diskusi berbekal materi curhat itu. Ada action plan (cuihh banget sih bahasanya) yang rencananya akan dilakukan tapi ya masih talk only hahahaha … dasar, emang gak main blassss kita-kita inih :”>
Btw, karena hari itu hari senin, siangnya daku aerobic deh. Yang ngajar hari itu adalah ibu dari mbak yang biasanya ngajar kita. Wah wah wah…malu deh. Masa body nya masih aduhay banget di usia senja gitu. Hehehe makin termotivasi deh jadinya buat olah raga. Selain itu si ibu ini sekalian jualan jamu dan sabun. Sambil berenang minum susu. Ya gakpapa lah…selagi ada kesempatan nggelar dagangan, kesempatan tak datang 2 kali.
Oya hari Selasa, sungguh berat terasa. Di kantor banyak trouble tiket yang sudah pada berwarna merah, duuuhh ampun deh. Gak sempet senyum-senyum sama orang lewat, hiks hiks. Padahal sejak meja pojokku dipindah ke deket pintu, biasanya gigiku ini rajin dipamerin pada semua orang yang lewat. Masih masa transisi sih, pake meja dipersimpangan jalan seperti ini, terasa rame banget, semua orang seakan pengen lewat di depanku (yaaa mau lewat mana lagi kalo udah kebelet???).
Ah ya sudahlah, kita kan kerja sama orang, gak boleh cari enaknya doang…yang gak enak juga harus diambil, biar gantian orang lain yang merasa enak. Begitulah hidup ini… Mari kita cari yang enak-enak di tempat lain. Di acara yang lain. Yuuukk…
Dengan beban hasil curhatan rekans di kantor tentang kondisi yang agak kurang mengasyikan minggu lalu, semoga Senin ini aku (kami) bisa melakukan “sesuatu” yang minimal bisa mengurangi dampak negatif ataupun ya…minimal aku berbuat sesuatu lah, who knows, ada hasilnya, kalo gak yah…kapan-kapan kita coba lagi
Oya, ada satu kegiatan lagi yang buat deg-degan, yaitu demo aplikasi yang udah dibuat oleh team selama sekitar 2 minggu ini, semoga sukses ya, karena orang dari Jakartanya datang besok.
Dan satu hal lagi yang buat semangat, aerobic class … mmmm yuk kita senam, satu…dua..tiga….ayo semangat…semangat….yang merahhhh…..biruuu…..tangannya pake tenaga ya…..capeekkk deehhhh (teriakan si mbak instrukturnya yang lantang, membuat kami makin semangat hap hap hap)
Hari minggu ini sepi amat ya, lonely terasa deh pokoknya
Suami, habis subuh udah meluncur ke luar kota, ke nikahan temen sekantor, karena perginya ber-rombongan sama teman-teman sekantor sewa bus, dan si junior biasanya agak malezz, ya sudahlah kita gak ikut aja
Berharap bisa main-main berdua sama anak, taktaunya dia dijemput teman tetangga untuk bermain-main, dan nonton Kungfu Panda, oh nasibku… :((
Satu lagi teman bicara di rumah, si mbak baru yang masih imutzz dan pendiam itu, kalo dipancing-pancing kadang-kadang suka cerita-cerita juga, lumayan lah……tapi….tau-tau dia bilang gini, “Ibu mau pergi-pergi gak? kalo nggak saya mau pergi ke rumah temen, soalnya janjian mau ketemuan rame-rame”. Glodhak…mo gimana lagi, berhubung tuh anak gak pernah mau diajak jalan-jalan, hiburannya cuma handphone dan telepon dari men-temennya ajah, jadinya ya monggo wis…biar refreshing, dan jadilah daku smakin merasa lonely
Cari-cari kesibukan dengan beres-beres rumah sedikit, trus buka-buka kulkas ehhh ada daging, bakso dan mie sayur (mie yang buatnya pakai sayur jadi warna mienya ijo), ya sudahlah aku buat bakso kuah aja deh…
Bikin kaldu berjalan sukses, masukkan daun bawang dan bumbu pelengkap lain (oya, kalo masak, aku gak pernah pakai vetsin lho, murni bumbu alami), plung plung plung….jadi deh baksonya, tinggal matengkan mie nya….
Ehhh kegaduhan terjadi lagi, anak-anak sudah selesai nonton Kungfu Panda dan datang lagi ke rumah, ya udah akhirnya kita pesta bakso deh…seneng kalo masakan kita dipuji, anak-anak lagi, mereka kan jujur-jujur…ya to (tink tink ;))
Habis makan bakso, anak-anak langsung sibuuukk lagi, ada yang thawaf (kejar-kejaran keliling rumah), nge-game, dll. ngapain lagi ya aku, sambil ngintipin dikit-dikit mereka bermain, aku buat puding coklat deh…..sama dengan bakso, plung plung plung aduk aduk cetak…jadi deh, cuma ya nunggu dingin dan mengeras dulu ya anak-anak
Alhamdulillah agak siangan, ada adikku bersama suaminya tercinta datang hehehe mayan deh ada temen ngobrol. Terharu deh kita, dia bawain brownies kukusnya Amanda dengan uang hasil gaji pertama sebagai tim sukses seorang caleg hahahaha….semoga calegnya amanah ya dekkk aamiinn (haruslah yaw…kan ustadz gitu loh)
Menjelang maghrib, hujan deras plus angin, bikin kita agak merinding juga, karena sore itu aku tinggal berduaan aja sama si imutz yang udah nungguin hujan sejak siang (dia mau main hujan-hujanan), berhubung hujannya pake angin dan hari udah mau maghrib ya…terpaksa larangan diberlakukan (maaf ya nak, ini untuk kebaikan kita bersama). Gak lama si mbak datang dengan baju yang basah kuyup karena kehujanan, wah kasihan banget deh…
Sebelum isya, suara si silver sudah terdengar masuk garasi, alhamdulillah suami sampai rumah dengan selamat dan tak lupa membawakan oleh-oleh untuk keluarga tercinta nusantara. Mau tau oleh-olehnya apa? Krupuk uphill (baca ap-hil, eh upil ding), tahu goreng, dan tahu kuning khas kediri karena tadi lewat kediri mampir, dan satu lagi….lontong kikil kesukaanku, mmmm nyammm…thanks yah.
Ada yang mauuu???
Lagu dari Opick featuring Amanda ini merupakan lagu favoritku. Alunan nada mengalun indah dengan syair yang membuat bulu kuduk merinding dan kangen ortu di kampung halaman. Miss u Mom & Dad
Mau dengerin juga ?
Ini Liriknya :
Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibu
Alloh izinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh
Biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya
oh ibu oh ibu kau ibu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu oh ibu kau ibu
oh ibu oh ibu
Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Kau ibu kau ibu kau ibu
Minggu lalu ikut kelas parenting di sekolah anakku, asyik, meskipun pada dasarnya kita udah lumayan paham tentang sistem pendidikan yang cocok untuk jaman sekarang, tapi masih mau aja ikut kelas gratis ini hehehe soale presenternya pinter cara nyampeinnya, gak mbosenin dan pas dengan contoh-contohnya. Pokoke klop deh
Salah satu syarat keberhasilan mendidik anak dalam rumah tangga adalah adanya rasa nyaman dan bahagia di dalam rumah. Anak nggak akan bisa belajar dengan baik kalo orang tuanya lagi gak akur, karena pasti mereka itu merasa dan melihat.
Jadi ada resep untuk menjaga kebahagiaan keluarga yang disampaikan oleh presenternya :
Cintailah suamimu, tanggal berapapun itu. Jangan cinta dia pas tanggal muda saja ya buuuu
Cintailah istrimu, berapapun berat badannya :)) (setuju banget dah pak
Yaa begitulah resep guyonan yang membuat kelas yang berisi bapak-bapak dan ibu-ibu gergeran. Itu namanya adil deh hehehehe
It’s about my office’s atmosphere
Minggu ini ada riak-riak di kantor yang agak kurang mengasyikkan. Problem laten yang memang sudah ada sejak lama ini seharusnya bisa dan segera diselesaikan oleh pimpinan, karena terlihat sudah mengarah ke persoalan pribadi.
Yang menjadi masalah adalah, karena yang bermasalah adalah pimpinan dan staffnya, jadi susah dehhh…jadinya ada yang merasa menjadi subject, objek penderita dan obyek penyerta. Kalo aku kayanya jadi obyek penonton hehehe
Gemeeess banget rasanya pengen mendamaikan, tapi apa daya, daku bukanlah orang yang sangat “klik” dengan atasan, dan atasan sudah punya “tangan kanan” yang lain.
Berada diluar “lapangan” dan menjadi penonton membuat kita bisa melihat persoalan secara lebih luas dan gamblang. Apa permasalahan dan bagaimana seharusnya, bisa kita lihat. Tapi, karena kita bukan pemain, ya belum bisa berbuat banyak.
Namun sebagai penonton, ada beberapa hal yang bisa aku petik dari semua babak dan peristiwa yang telah terjadi. Beberapanya mungkin adalah :
- Sebelum menilai dan menyimpulkan sesuatu tentang orang lain, lakukan dulu penilaian terhadap diri sendiri
- Nobody’s perfect, sebaik-baiknya manusia pasti ada sisi buruknya walaupun itu sedikit dan seburuk-buruknya manusia pasti ada sisi baiknya
- Lebih mudah mencari keburukan orang lain, daripada mencari keburukan diri sendiri
- Forget the past, jangan mendendam. Karena mendendam adalah penyakit hati yang akan menyakiti diri sendiri
- Everybody may change, even in every second, include us, berita negatif tentang seseorang dimasa lalu jangan membuat kita men-judge dia negatif juga, cari positifnya siapa tau bisa dikembangkan untuk menutupi hawa negatif itu
- Komunikasi dan komunikasi, karena sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit
- Janganlah terlalu sensitif, apalagi bergaul dengan banyak orang yang beraneka ragam budaya dan bahasa
Yah gitu deh, someday, semoga aku bisa punya kekuatan untuk membuat suasana menjadi lebih nyaman di kantor, tanpa ketegangan dan bersuku-suku. Amin. Wish me luck, yee
Dikarenakan banyaknya spam yang masuk di comment terkait tulisan di category My Diet Program, dengan sedih aku tutup saja kategori itu, hiks hiks
Padahal udah pasang akismet, tapi kok masih ada aja yang masuk ya? hehehe berhubung belum sempat-2 belajar memblok spam (harusnya bisa pakai apa itu huruf yang random itu ya?) yah sudahlah…bye bye
Waktu liburan sekolah akhir bulan kemarin, kita kebetulan pas kedatangan rombongan keluarga dari Yogya, ada 2 ponakan yang ikut serta. Ya udah setelah bincang-bincang, kita menentukan lokasi liburan hari itu jatuh pada lokasi TAMAN SAFARI Prigen.
Alhamdulillah, sejak berangkat, selama disana dan sampai di rumah lagi, cuaca sangat bersahabat. Nggak hujan dan nggak panas….di area manapun kami berada (terima kasih ya Allah), sehingga kegiatan liburan berjalan lancar dan menyenangkan
Namun masih ada 1 hal yang menggelitik, dan bikin kami (aku dan suami) ketawa ngakak kalo ingat perkataan anak kami waktu melihat segerombolan zebra yang sangat dekat jaraknya dari mobil kami.
“wih..wih..wih..!!! Itu Zebra yang aneh…masak dia punya 2 ekor, satu di belakang satu di depan”, katanya
Kikikikik….sampai sekarang masih pengen ketawa melihat reaksinya dan ingat2 reaksi kita saat melihat salah satu zebra sedang “ON” di depan mata kami, rasanya campur aduk waktu itu, bingung dan khawatir. Gimana kalo tiba-tiba si kecil tanya apa itu??? tapi kami masih bersyukur karena para zebra sedang tidak “berbuat” saat itu, bisa pucat kami disana
Aduhhhh mungkin ini hanya sebagian kecil pengalaman sebagai orang tua, yang menyadarkan kita ternyata kadang tidak siap siaga setiap waktu, yang mengingatkan kita untuk harus terus belajar dan belajar dalam menghadapi hari-hari bersama anak yang penuh tantangan. Ada yang mau sharing ???
Tulisan ini adalah email dari seorang teman SMA yang lagi tinggal di Australia. Dia juga mungkin dapet dari email temannya lagi kali ya??? Tapi no problemo, yang penting isinya bagus buat dibaca dan diambil pelajarannya
*****
Cerita dari seorang mahasiswi di Jerman
———— ———
Saya adalah ibu dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.
Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.
Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.
Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami
bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada
menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat,
ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil!
Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.
Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri
lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot
matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.
Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang
disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya,
dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang
memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari
bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah
“penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian
itu kini hanya tinggal saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di
depan counter.
Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan
kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu
cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil
mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya,
yang hampir semuanya sedang mengamati mereka..
Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga
sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.
Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan
apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar
pesanan saya) dalam nampan terpisah.
Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu
untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan
tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”
Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.”
Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya
bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.”
Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil
terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.
Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran
dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk
sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami.
Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah
memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat
saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan
tadi kepada kami.”
Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan
restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’
yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu
melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali
apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!
Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia
meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun
mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara
dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang
hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung,
sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk
saya untuk mengungkapkan perasaan harunya..
Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah
satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya . “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan
mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”
Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”
Apakah mata anda sudah berkaca-kaca ???
Ramadhan bulan yang penuh berkah dan pahala, karena ibadah yang dikerjakan di Ramadhan katanya akan diganjar pahala 10X lebih dibandingkan hari lain. Sehingga momment ini biasanya digunakan untuk membayar zakat bagi para umat muslim.
Seperti yang terjadi di Pasuruan kemarin, seorang pengusaha kaya raya, menggelar acara pembagian zakat kepada para fakir miskin. Selain mengumumkan dari mulut-ke-telinga, aku baca di koran, beliau juga mengumumkan lewat radio FM di kota itu.
Dari indopos.co.id:
Undangan bagi-bagi duit di tengah ekonomi sulit seperti sekarang itu kontan menarik ribuan orang untuk datang. Apalagi, jumlah yang dibagikan tahun ini lebih besar daripada tahun lalu yang hanya Rp 25 ribu. Umumnya warga mendengar adanya pembagian uang Syaikhon itu dari mulut ke mulut. Sebagian menguping siaran Radio FM Ramapati Pasuruan. ”Sedekah itu juga diumumkan di radio,” ungkap salah seorang warga.
Selain itu ada wartawan yang meliput kegiatan amalnya tersebut. Hiks menyedihkan sekali, 21 orang wanita yang sebagian sudah sepuh kehabisan nafas, pingsan dan terinjak-injak, dan akhirnya meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi roji’un
Ya sudah, semua sudah terjadi dan ini harus menjadi pelajaran bagi semua umat muslim dimanapun berada, untuk melakukan ibadahnya dengan benar, perhitungkan manfaat dan mudharatnya.
Berikut beberapa komentar dari detik dan indopos :
Ketua FPKS DPR RI, Mahfud Sidik
Ketua FKB Effendi Choirie
Walikota Pasuruan Aminurrochman
Ketua Komisi VIII DPR Hazrul Azwar
Ketua Umum Baznas Didin Hafidhudin
Menteri Agama (Menag) maftuh Basyuni
Kapolri Jenderal Sutanto
Kalo komentar dari aku sendiri, intinya setuju banget dengan komentar diatas. Dengan tambahan 1 point lagi, adalah hal yang sangat urgent untuk memperbaiki mental masyarakat kita, yaitu meningkatkan harga diri mereka. Dari yang seneng banget menerima, ikut antre pembagian apapun, dan meminta-minta, seharusnya mulai diupayakan untuk menjadi masyarakat yang memiliki harga diri, ulet dan malu untuk meminta-minta kecuali kepada Allah.
Teringat cerita seorang bapak tua, aku lupa namanya, yang membuat aku merinding. Beliau termasuk dalam daftar orang miskin yang berhak menerima bantuan BLT, tapi beliau tidak mau mengambilnya karena merasa masih mampu makan tanpa meminta-minta. Padahal kalo dilihat kondisinya amat sangat memprihatinkan. Tapi semangat beliau dalam menjaga harga diri, sangat menginspirasiku untuk tidak kalah dalam hal tersebut. Thanks pak, semoga semua itu dilakukan dengan ikhlas, lillahi ta’ala.
Semoga kita bisa membaca semua hikmah dari kejadian ini, dan menjadikannya sebuah pelajaran yang amat sangat berharga, terutama dalam hal beribadah
Blog sharing tentang keluarga, pekerjaan, pengalaman hidup, pendidikan, kehidupan, pertemanan, persahabatan, bisnis, ide, joke, curahan hati, cita-cita & angan-angan, catatan perjalanan, gossipshow, hobby, resep masakan, wisata kuliner, dll.